Arsip materi hybrid learning

.

Materi belajar atau bahan pelajaran yang dimiliki Universitas Esa Unggul terdapat di web hybrid learning dan situs arsip, materi yang ada di web hybrid learning terdiri dari materi baru dan materi lama, sedangkan materi di situs arsip merupakan salinan materi lama web hybrid learning.

Materi belajar semester ganjil tahun 2011/2012 dan materi semester genap 2010/2011 tidak ada yang hilang atau dihilangkan satu pun, bahkan materi tersebut telah mempunyai back upnya di situs arsip (http://ddp.esaunggulacid). Ini adalah bentuk tanggung jawab DDP  untuk mengamankan materi yang telah ada agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Materi  belajar lama (materi belajar semester genap 2010/2011 dan semester ganjil 2011/2012) masih berada di web hybrid learning dan kami sembunyikan dari pandangan agar para dosen melakukan perubahan di kelas-kelas yang baru, bukan di kelas yang lama ataupun di kelas yang ada di situs arsip.

Materi yang ada di situs arsip tersebut dapat didownload kapan pun oleh siapa pun warga Universitas Esa Unggul untuk disesuaikan, ditambah, atau disempurnakan dan kemudian diupload kembali ke kelas-kelas baru yang tersedia di web hybrid learning.

Kelas-kelas baru tersebut dibuat guna memfasilitasi hajat Universitas untuk menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan metoda student centre learning (SCL) nya, mengingat semua program studi di Universitas Esa Unggul telah memiliki SAP yang disusun berdasarkan KBK. Untuk mensukseskan hajat Universitas tersebut kami juga telah membuatkan contoh penerapan SCL di web hybrid learning.

Pembukaan kelas-kelas baru dimaksudkan agar para dosen dapat  menyusun materi belajar yang sesuai dengan SCL, sementara para dosen yang belum siap melaksanakan model pembelajaran tersebut  dapat menggunakan situs arsip untuk keperluan presentasi. Dengan demikian, baik dosen yang siap melaksanakan metoda baru ataupun dosen yang belum siap melaksanakan tidak terganggu untuk menggunakan materi belajar yang ada dalam proses pembelajaran.

Banyak yang berargumentasi bahwa SCL adalah sebuah metoda dan karenanya tidak mempengaruhi materi belajar. Pendapat ini tidak terlalu tepat mengingat materi lama yang umumnya berbentuk pointers yang hanya cocok untuk metoda ceramah. Metoda ceramah sangat didominasi oleh dosen dan merupakan model pembelajaran berpusat pada dosen (Teacher Centre Learning atau TCL), sedanngkan metoda SCL harus mengedepankan peran aktif mahasiswa. Metoda-metoda SCL lainnya menempatkan dosen hanya sebagai fasilitator, motivator, tutor dan memberikan feed back.

Bila materi lama ingin dipertahankan, maka paling jauh materi tersebut untuk menunjang metoda contextual instruction. Metoda ini merupakan metoda SCLyang mirip metoda ceramah yang merupakan satu model pembelajaran TCL. Begitu pun, dosen harus memperkaya materi belajar dengan ilustrasi-ilustrasi berbentuk pengalaman nyata di lapangan dan bukan hanya paparan konsep-konsep teoritis belaka.

Materi lama masih tetap dapat dipertahankan dengan catatan hanya sebagai bahan bacaan yang memperkaya materi belajar yang sesuai dengan SCL dan materi yang dimaksud harus disusun ulang. Untuk memfasilitasi hal tersebut, dalam waktu dekat Departemen Dukungan Pembelajaran akan menyediakan materi belajar berbentuk powerpoint mengingat para dosen sudah sangat familier dengan software ini.

Semoga informasi ini bermanfaat.

About mulyo

Sewaktu duduk di bangku SMA, saya mulai berkenalan dengan dunia bisnis namun cara berbisnis saya seperti perilaku seorang pekerja lepas (self employed). Saya menjajakan barang dagangan berupa kebutuhan hidup sehari-hari di toko kelontong milik orang tua. Barang yang dijual adalah sabun, sikat gigi, odol, parfum, obat, gula, kopi, teh, susu, dan sebagainya. Motivasi saya waktu itu adalah mengumpulkan tabungan untuk biaya kuliah di perguruan tinggi. Setelah kuliah di perguruan tinggi, kebiasaan saya berbisnis terus tumbuh. Awalnya, saya mengambil program studi politik karena saya berniat menjadi politisi.Keadaan tahun 80-an kondisi politik sangat panas dengan banyaknya intimidasi bahkan kekerasan yang dilakukan rezim Soeharto terhadap mahasiswa dan membuat saya mengubah niat menjadi seorang pendidik. Selama masa kuliah, saya berbisnis dengan cara menjajakan barang-barang cetakan, souvenir dan assesories kepada konsumen secara langsung. Dilain waktu, saya juga menawarkan jasa untuk mengerjakan proyek-proyek yang ditawarkan oleh teman-teman dan dosen untuk menambah penghasilan. Motivasi saya berbisnis adalah mencari penghasilan untuk menambah kiriman orang tua, sehingga mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bisa membayar biaya kuliah. Setelah lulus dari perguruan tinggi, tempat pertama yang saya incar sebagai lahan pengabdian adalah lembaga pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Motivasi saya adalah mencari pekerjaan. Awalnya, saya diminta oleh Profesor Tilaar untuk menjadi dosen di almamater saya, salah satu PTN di Jakarta, karena saya menjadi lulusan terbaik. Pada waktu itu ada kebijakan zero growth yang mengharuskan saya menunggu hingga ada dosen yang pensiun dahulu untuk bisa masuk sebagai dosen PTN dan saya tidak sabar menunggu. Nasib akhirnya membawa saya menjadi dosen juga di salah satu universitas swasta di Jakarta, menjadi seorang pekerja (employee) Sebelum menjadi dosen, jabatan saya adalah Asisten Direktur salah satu program pendidikan di sebuah institut dengan gaji yang sangat tidak memuaskan. Saya tidak menyadari bahwa menjadi seorang pekerja memang tidak dapat mengharapkan kepuasan dari gaji yang diterima. Jumlah gaji seorang pekerja sudah ditentukan oleh pimpinan atau pemilik usaha, bahkan karena pada waktu itu lembaga tempat saya kerja belum mempunyai sistem penggajian yang bagus, akibatnya gaji yang saya terima sangat kecil dibandingkan dengan teman-teman se kantor yang jenjangnya relatif sama. Untuk menambah penghasilan, saya mengajukan permohonan untuk menjadi pengajar di lembaga pendidikan tempat saya bekerja. Saya mencoba merintis karier di lembaga pendidikan dengan menduduki berbagai jabatan yang tersedia. Setelah lembaga pendidikan tempat saya bekerja dikembangkan menjadi Akademi dan Universitas, saya diangkat sebagai Pembantu Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan di Akademi tersebut. Perkembangan selanjutnya adalah, ketika dibentuk sebuah fakultas kesehatan, saya juga diangkat sebagai Pembantu Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan, demikian pula ketika dibentuk fakultas kesehatan lainnya, saya merangkap jabatan di kedua fakultas kesehatan tersebut. Di bidang akademik, selain menjadi dosen di Akademi dan Universitas, saya juga pernah diangkat sebagai Ketua Peminatan dan Sekretaris Jurusan. Di bidang kemahasiswaan, saya mempunyai pengalaman sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan, membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rohani Islam dan UKM Korps Sukarela PMI. Dalam merintis dan menapaki jalur karier, saya mendapat banyak pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, namun dari sisi finansial saya tidak mendapatkan hasil yang cukup berarti. Rumah yang saya tempati belum lunas, mobil yang saya pakai berasal dari hutang dan perabot-perabot lain yang saya miliki juga tidak seberapa. Untuk mencapai keamanan finansial, saya mencari tambahan penghasilan dengan menyewakan mobil yang saya miliki, menjadi perantara dalam jual beli rumah dan menjadi instruktur dalam pelatihan-pelatihan manajemen. Sampai tahap ini, saya masih memposisikan diri saya sebagai karyawan dan dosen (employee) merangkap sebagai instruktur dan penjual jasa (self employed). Saya berusaha meningkatkan motivasi saya dengan jalan merintis karier untuk menjadi pemilik usaha (business owner) dan investor guna meraih kebebasan finansial (financial freedom) sebelum menginjak usia 60 tahun. Saya berpendapat, kebebasan finansial terwujud jika saya sudah memiliki penghasilan pasif (passive income) yang mencukupi kebutuhan hidup. Penghasilan pasif adalah penghasilan yang diperoleh secara terus menerus tanpa keharusan untuk bekerja mendapatkan uang, karena harta yang dimilikinya telah ”bekerja” menghasilkan uang untuk pemiliknya. Pada tahap ini, bekerja adalah sebagai pilihan dan bukan sebagai keharusan karena ingin mendapatkan penghasilan. Bekerja bukan untuk mendapatkan penghasilan karena penghasilan saya sudah tercukupi dari uang saya yang "bekerja" mendapatkan penghasilan pasif. Untuk meraih kebebasan finansial dari penghasilan pasif, saya mulai merintis usaha di bidang property dengan menyediakan jasa penyewaan rumah, menyewakan tanah untuk lahan usaha, persewaan mobil dan mendirikan toko busana. Perlahan-lahan saya mencoba untuk memperbesar aset dalam bentuk tabungan di bank, deposito, emas, dan valuta asing. Saya berusaha mengumpulkan harta produktif berupa rumah-rumah sewa. Untuk tujuan jangka panjang saya juga sedang berupaya untuk memiliki tanah yang luas sebagai lahan untuk mendirikan “mesin uang” keluarga…..
This entry was posted in pengumuman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>